Advertisement
  1. Web Design
  2. UX

Memilih Alat Desain UX

by
Read Time:2 minsLanguages:
This post is part of a series called A Beginner’s Guide to UX Design.
What is UX Design?
The Five Core Components of UX

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Yosef Andreas (you can also view the original English article)

Ada kumpulan besar alat desain yang dapat dipilih, dan memilih yang tepat tidaklah mudah. Berikut hal-hal untuk dipertimbangkan saat kamu memilih sebuah toolkit untuk desain UX.

Produk

Ketika memilih alat yang tepat, catat jenis produk yang akan kamu tangani, jumlah waktu yang harus kamu gunakan untuk membuat sebuah mock-up dan dengan siapa kamu akan berkolaborasi.

Apa yang diperlukan dari alat desain yang bagus adalah kemampuan untuk memungkinkan pekerjaan berpindah dengan baik di antara tim, apakah antara tim desainer, di depan non desainer untuk kajian, atau untuk pelepasan dari desain ke penerapan.

Dari semua tool yang tersedia, masing-masing memiliki beberapa fungsionalitas yang saling melengkapi dengan lainnya. Ada tools yang dikhususkan untuk platform tertentu dan yang mencakup mobile, web dan pengalaman. Banyak desainer UX berkerja dengan berbagai tools, untuk menutupi celah atau mencocokkan konteks untuk penyampaian yang sedang mereka buat.

Faktor Lainnya

Faktor lainnya untuk dipertimbangkan adalah:

  • Kecepatan (hambatan pembelajaran untuk alat ini, kecepatan umum pada output)
  • Ketepatan yang dipersyaratkan
  • Kemampuan berbagi (ketersediaan fitur kolaborasi)
  • Pengujian Pengguna
  • Dokumentasi pendukung
  • Dukungan Mobile/Sentuh
  • Kemampuan untuk membuat interaksi yang kompleks

Salah satu pertimbangan utama untuk memilih alat adalah seberapa mudah desain dapat menerjemahkan fase riset/pengujian pengguna dan apakah desainer dapat membuat lingkungan dimana desain dapat divalidasi di depan pengguna. Sebagai contoh, ada tools (seperti Marvel dan InVision) yang memungkinkanmu untuk mengirimkan desain ke sebuah perangkat yang dapat memfasilitasi pengujian aplikasi mobile.

Di dalam industri desain, Adobe Creative Cloud Suite (Photoshop, Illustrator, InDesign, dll.) biasanya dipertimbangkan sebagai standar untuk dilatihkan pada kebanyakan desainer. Bagaimana pun juga, sekarang ini tidak biasa untuk menggunakan tools alternatif untuk menyelesaikan tugas yang diperlukan. Kamu akan menemukan itu lebih sebagai permasalahan pilihan pribadi, anggaran, yang mana paling cocok dengan kebutuhan produk, dan memungkinkan berbagi secara mudah dengan mereka yang akan berkerja denganmu.

Mainan Baru

Beberapa yang membuat saya tertarik tentang keadaan alat desain saat ini adalah arus alat-alat pembuatan purwarupa yang baru. Tanpa adanya pengalaman coding, ada alat-alat pembuatan purwarupa visual yang tersedia yang meniru interaksi (Principle AppFlintoQuartz Composer, dll.) yang sangat berguna dalam menunjukkan pengalaman multi layar. Itu menarik bagi desainer untuk membangun purwarupa yang dapat menunjukkan perilaku daripada sebuah layar statis. Tool terbaru lainnya bernama Figma, yang menjelaskan dirinya sendiri sebagai sebuah alat antarmuka kolaboratif yang real time. Kebanyakan desainer yang berkerja di dalam lingkungan tim dan memiliki kemampuan untuk mengulang desain dalam real time dengan desainer lainnya akan sangat berguna.

Akhirnya, sebagai seorang desainer UX dalam memilih seperangkat alat, itu kembali kepada kebutuhan harianmu, jenis platform tujuan yang sedang kamu desain dan cara terbaik untuk membagikan pekerjaanmu (kepada tim yang berkolaborasi denganmu atau kepada pengguna).

Segera Hadir..

Berikutnya di dalam seri cepat UX kami, kita akan membicarakan tentang Komponen-Komponen UX. Sampai jumpa di sana!

Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.