Unlimited Wordpress themes, plugins, graphics & courses! Unlimited asset downloads! From $16.50/m
Advertisement
  1. Web Design
  2. UX
Webdesign

Cara Bekerja Dengan MVP (Minimum Viable Products)

Length:MediumLanguages:

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Husain Ali Yahya (you can also view the original English article)

Mari bicara mengenai MVP (Minimum Viable Products) dan bagaimana kamu, sebagai manajer produk atau professional di bidang User Experience, bisa bekerja dengan deadline dan dana yang sedikit namun tetap memberikan produk yang hebat.

Apa itu MVP?

Kamu mungkin telah mengenal akronim MVP sebelumnya-terutama jika kamu bekerja di industri teknologi- dan mengesampingkan 3 huruf kontroversial ini, sebuah MVP mungkin satu langkah terpenting dari jalanmu membuat sebuah produk yang baik. Tujuan utama dari Minimum Viable Product harus selalu "meletakkannya di depan konsumen untuk mulai memvalidasikan asumsimu".

Sebagai sebuah tim, kamu perlu mengumpulkan kekuatanmu dan fokus pada membuat pembahaman bersama mengenai tujuan dan visi bisnis. Kamu perlu mengidentifikasikan masalah yang kamu coba selesaikan secepat mungkin. Mulai dari mempelajari hal yang kostumer sebenarnya inginkan dan bagaimana mereka membantu mencapai tujuan tersebut.

Analogi Donat

Ketika saya mulai bicara MVP di kelas, saya menggunakan analogi sederhana dari donat tawar (yang bisa jadi MVP saya) dan sebuah donat penuh cokleat, taburan dan hal-hal lainnya (iterasi selanjutnya dari produk).

mvp doughnuts
MVP dan Iterasi selanjutnya? Ikon Donat dari Diana Toma.

Seakarang, semakin banyak saya bekerja dalam tim dan konsep dari MVP, terutama karena sekarang saya punya peran di produk, saya mulai mempertanyakan analogi ini. MEmbuat MVP untuk memvalidasi asumsi bisa berarti bahwa kamu memulai dengan salah, dan iterasi selanjutnya mungkin bukan donat, mungkin itu sebuah wafel tawar?! Itu mungkin masih tawar dan kamu perlu melalui proses untuk memvalidasinya kembali, tapi itu bukan lagi sebuah donat.

Jadi... Apa itu MVP?

Untuknya saya akan meminjam sebuah illustrasi dari Henrik Kniberb yang menjelaskan MVP harusnya tidak seperti apa.

mvp by Henrik Kniberg
Oleh Henrik Kniberg

Henrik menjelaskan dua pendekatan berbeda yang membagi visi yang sama: sebuah mobil. Sekarang jika masalah yang ingin kamu tangani adalah transportasi, akankah kamu, sebagai kostumer, pergi kemanapun dengan kendaraan bermotor? Tentu saja tidak, tapi dengan sebuah skateboard.

Henrik mempertahankan tangkasnya, cara inkremental untuk menyajikan produk tapi menyatakan bahwa tiap iterasi harus sebuah produk yang bisa digunakan/dicoba. Jelasnya, sebuah skateboard jauh dari sebuah mobil, tapi setidaknya kamu bisa membuat pelangganmu mencobanya lebih cepat dalam prosesnya dan memberikan umpan balik sehingga kamu bisa mulai belajar dan berpikir tentang iterasi berikutnya.

Kamu tidah harus menghabiskan banyak waktumu melihat desain atau membuat secara teknis baik - kamu tidak ingin memulainya dengan sempurna, namun kamu cukup membuat yang cukup untuk mengetes hipotesis bisnismu.

Untuk menyingkatnya, MVP bukanlah ..

  • Sebuah produk yang tidak bisa digunakan atau ditest oleh pelanggan dari hari pertama.
  • Sebuah produk yang tidak mengizinkanmu dan timmu untuk belajar dan memvalidasi asumsi.
  • Sebuah produk yang tidak menyelesaikan (atau mencoba untuk menyelesaikan) masalah pelanggan.

Di Dalam Artikel Ini

Di artikel ini, kita akan membahas topik berikut- mereka akan memberimu beberapa peralatan untuk mulai berpikir mengenai seperti apa seharusnya MVP:

  • Fokus ke menyelesaikan masalah pelanggan
  • Memulai strategi membangun MVP
  • Pentingnya tagging
  • Belajar dengan data dan insights
  • Pengulangan

Fokus pada Penyelesaian Masalah

terutama, ketika membangun produk, tujuan utamamu haruslah menyelesaikan masakah pelanggan. Jika kamu tidak menyelesaikan masalah mereka, dan tidak membawa sesuatu yang baru ke kehidupan seharo-hari mereka, kemungkinan besar mereka tidak akan menggunakan produkmu. Dengan cepatnya perkembangan dari teknik desain, tim UX mendapatkan alat untuk mengenal pengguna dan mendapat dasar dari yang mereka inginkan lebih cepat dalam prosesnya.

Ada banyak yang kamu dan timmu bisa gunakan untuk mengenal pelanggan, dan memahami bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalahnya:

  • Grup Fokus. Jika kamu membuat sebuah produk baru, undang sekumpulan orang yang menggunakan produk kompetitiormu dan tanya mereka mengenai kekurangannya, dan juga hal yang mereka sangat suka, dan cobalah untuk memahami perubahannya dan mengapa. Jika kamu mengembangkan sebuah produk yang sudah ada atau menambahkan fitur baru, kenapa kamu tidak mengundang pelangganmu dan menanyakan hal yang sama? Grup fokus bagus untuk mulai mengembangkan pemahaman dari hal yang pelangganmu mungkin inginkan dari produkmu. Namun ingat, grup fokus bisa jadi bias, selalu ada seseorang dengan opini kuat yang mungkin mempengaruhi yang lain, jadi kamu harus tahu batasnya.

  • Ideation workshop. Kumpulkan timmu (termasuk stakeholder) dan tunjukkan poin kelemahan yang ditemukan. Kamu juga harus mencoba untuk mencetak sebanyak mungkin hal yang telah kamu pelajari sejauh ini tentang visi yang didefinisikan dan tujuan bisnis. Pasang di dinding sehingga semuanya bisa melihat dengan jelas. Di sesi ini tanya semua orang untuk menggambar sebanyak mungkin solusi karena merreka dapat berpikir untuk penyelesain masalahnya. Kamu mencari kuantitas, bukan kualitas.

  • Prototyping and user testing. Idealnya, kamu harus bisa membuat prototype setidak tiap minggu. Sekarang, tim UX dan pendesain UX biasanya menghabiskan lebih banyak waktu membuat sketsa dan kertas penguji atau menggunakan kerangka sederhana ketimbang menghabiskan waktu lebh panjang di belakang komputer membuat keputusan mereka sendiri. Buat tim UX untuk menggunakan prototype secepat mungkin dalam proses mendapatkan umpan dari pengguna. Guerilla testing adalah cara yang bagus dan efektif untuk mengetes desain awal dan hampir tidak memakan usaha apapun.

Strategi membanguan sebuah MVP

Jadi, kamu telah melakukan banyak sementara berusaha untuk mendesain solusi yang terbaik. Kamu menjalankan sesi guerilla mingguan, kamu mengambil desain dari lab dan kamu percaya telah di jalur yang benar.

Tetap, mesikupun kamu ttelah mengetes produkmu ke pengguna, mereka hanya persentase kecil dari penonton dan mereka berada dalam lingkungan percibaan (jauh dari natural). Mengetes dengan kostumer yang sebelumnya tidak akan bernilai, tapi kamu mungkin ingin produkmu berada di pasar yang lebih luas untuk dicoba.

Membuat stategi untuk membangun dan merilis sebuah Minimum Viable Product adalah hal terbaik selanjutnya untuk mengetes asumsimu dan terus membangun dari apa yang telah kamu pelajari sejauh ini.

Satu cara yang bagus untuk mulai berpikir tentang MVP-mu adalah mengambil roadmap yang telah kamu buat di sesi sebelumnya dan fokus pada hal-hal yang menyelesaikan masalah pelangganmu.

Ketika kamu sudah selesai, tanyakan ini: Apa yang bisa saya buat dengan usaha minimum yang membantu saya memvalidasi produk ini?

Di sini saya masih berusaha, jatung UX saya (jiawa dan raga) selalu mengatakan untuk mendapatkan sebanyaj mungkin, saya ingin membuat sebuah pengalaman dari hari pertama, untuk semua pengguna.

Sebagai pemilik produk, dengan deadline yang ketat dan dana di tangan, saya ingin membangun yang cukup untuk memastikan kita membuat hal yang benar dan saya percaya bahwa ini produk yang bagus.

Pentingnya Tagging

Tidak ada yang akan keluar tanpa tagging.

Jadi, telah kamu katakan sebelumnya bukan? Tujuan dari membuat MVP adalah untuk belajar dan mengulang. Tidak ada cara untuk belajar (maksud saya benar-benar belajar) dengan pelangganmu kecuali kamu memiliki sebuah sistem yang mengizinkanmu untuk melacak apa yang pelangganmu lakukan dengan produkmu. Kamu butuh data berharga tersebut untuk membuat keputusan berdasar. Kamu bisa melakukan penelitian kuantitatif dan menanyakan pelangganmu mengenai perasaan mereka terhadap produkmu, tapi kita tahu ini tidak cukup.

Kamu perlu memastikan kamu membuat tags ke MYP-mu yang akan membantumu memahami bagaimana produkmu berperilaku melawan KPI-mu (Keu Performance Indicators) dan menimbang asumsimu.

Tag analitik (atau tracking) biasanya disediakan oleh pihak ketika seperti Google Analytics untuk membantu kita mengintegrasikan produk kita (Situs, aplikasi ponsel) dengan alat pelacak. Tracking tag tidaklah lebih dari sekedar kode yang perlu kamu sisipkan di source code produkmu untuk mengirim aksi pengguna apapun yang ini kamu lacak dan memudahkan untuk memvisualisasikan data.

Mari katakan kamu ingin melacak jumlah dari suatu tombol diklik; penyedia akan menanyakanmu untuk menambahkan sebuah event tag ke source code dari tombol untuk memastika sebuah tag melakukan pengiriman data tiap kali pengguna menekan tombol tersebut. Alat mereka nantinya akan mendaftarkan aksi ini dengan aksi lainnya yang kamu tentukan untuk memberimu pandangan detil mengenai yang penggunamu lakukan dengan produkmu.

Ada banyak alat yang bisa digunakan untuk melacak pengguna online. Mulailah memilih yang tepat untukmu dan kebutuhan bisnismu, dan hubungi dengan jasa layanan konsumen mereka untuk mendapatkan bantuan mengenai tag terhadap produkmu.

Belajar dengan Data dan Insights

Ketika tracking sudah dilakukan dan MVP selesai, kamu bisa mulai mencari apa yang pelangganmu lakukan dengan produkmu.

Jika kamu baru di analisis, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan terhadap datamu dan apa yang harus kamu perhatikan. Google memiliki beberapa video pengantar untuk memulai dan kamu bisa juga membaca buku Lean Analytics. Dia akan membantumu untuk memahami metrik beraksi dan apa yang dilakukan dengan data yang kamu dapat.

Jika pada kesempatan apapun kamu cukup beruntung untuk tim terdedikasi untuk perusahaanmu, mereka jadi bisa memahami data ataupun lebih baik lagi! Mereka paling mungkin akan bisa membuat sebuah laporan dengan key metrics yang ingin kamu ikuti untuk membuat hidupmu lebih mudah.

Apapun arti dari data tersebut untukmu, keseleruhan tim harus memiliki akses kepadanya. Kamu semua harus mendiskusikan keluaran dan hal selanjutnya untuk produkmu. Bagaimana kepuasan pelanggan? Apakah mengikuti tujuan yang kamu buat?

Jika jawabannya iya, lalu berita baiknya! Asumsimu sebelumnya telah benar dan kemu telah melakukan kerja yang baik. Jika di sisi lain MYP-mu tidak menjurus ke key metrics yang kamu harapkan, pahami kenapa dan setujulah pada apa yang harus kamu lakukan selanjurnya (dan katakan bahwa kamu memutuskan untuk merilis sebuah MVP sebelum mengalokasikan banyak sumber dan uang untuk sebuah produk yang tidak akan sukses walaupun pada awalnya kamu pikir akan sukses).

Uji coba multi varian

Jika dasar kostumermu itu cukup buat, kamu harus mendorong A/B atau testing multivarian. Ini mengizinkanmu untuk, sepanjang life cycle dari produkmu, untuk mengetes variasi berbeda dan pastikan kamu tetap sejalan dengan metriks.

Kamu bisa membuat perubahan ke antarmukamu dan melihat cara kerjanya terbaik - coba perubahan kecil seperti mengubah sebuah judul atau warna tombol, dan mempunyai dua versi dari produkmu dari sisi ke sisi lain untuk menganalisis hasilnya. Kamu juga bisa mengubah antarmuka secara penuh; Optimizely adalah satu contoh untuk dari alat yang bisa menjalankan eksperimen tersebut. Atur parameter yang ingin kamu uji dari persentase pelanggan yang ingin kamu tunjukkan ke versi baru dari halaman atau produkmu, dan lacak hasilnya.

Pergilah dan Ulangi!

Ini adalah waktunya kamu mulai mengulang dan membangun di atas apa yang telah kamu miliki. Idealnya, roadmapmu di prioritaskan dari sekarang dalam cara yang bisa secara bekerlanjutan merilis produk. Sekarang waktunya untuk mulai memobilisasi timmu dan mulai berpikir untuk perhentian berikutnya.

Ingat, tiap iterasi dari produkmu harus bisa digunakan ( mengenai "viable" di MVP). Asumsimu harus bisa divalidasi atau ditantang, dan dalam sebuah cara yang memberikan data yang bisa diukur. Semoga beruntung dalam menggunakan MVP dalam alur kerja pengembangan produkmu!

.
Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.